Aku menghangatkan tubuhku dengan secangkir teh sambil mengingat-ingat apa saja yang kulalui denganmu beberapa hari belakangan.
Hari pertama aku berjalan-jalan ke taman bermain seharian penuh bersamamu. Kita naik bianglala, membeli kembang gula, dan berjalan kaki berkeliling taman bermain sampai kita lelah.
Hari kedua, kau mengajakku ke kebun binatang. Kau menggodaku dengan mengatakan kau membawaku ke kebun binatang untuk mempertemukanku dengan saudaraku yang ternyata adalah seekor monyet.
Menyebalkan. Dan itu sama sekali tidak lucu, kau tahu tidak?
Hari ketiga, kau membawaku berjalan-jalan di kota. Kita minum kopi, mencicipi semua jajanan di pinggir jalan, dan duduk-duduk di trotoar sambil melihat mobil yang berlalu lalang.
Bukan tempat piknik yang bagus, tapi aku suka.
Hari keempat, kita pergi ke pusat perbelanjaan. Kita memberi barang-barang yang sebenarnya tidak perlu dibeli. Kau tahu, aku ingin tertawa melihat wajahmu yang cemberut saat kukatakan kau seperti bos sok kaya yang kerjanya hanya menghabiskan uang sia-sia.
Hari kelima, kita menikmati hangatnya sinar matahari di lapangan. Kita berbicara sambil berteriak karena angin berhembus kencang sekali, menerbangkan suara kita entah kemana.
Hari keenam, kita menghabiskan sore hari di teras belakang rumahmu. Sambil menikmati kue coklat, kau berkata bahwa berkeliling seperti beberapa hari lalu membuatmu lelah. Aku juga merasa lelah, kakiku sampai bengkak karena kebanyakan berjalan.
Dan disinilah aku hari ini.
Hari ini, di hari ketujuh aku hanya diam di teras belakang rumahku, tidak melakukan apa-apa. Aku kehilangan minat untuk keluar rumah.
Aku juga tidak punya minat untuk datang ke rumahmu.
Aku harus bisa menghilangkan minatku kesana.
Aku tidak mau mengganggu tidur panjangmu yang damai.
Tapi aku akan berkunjung sesekali untuk mengganti bunga agar kamarmu tetap harum.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar