Title : Priest
Author : Just Hagi
Cast :
EXO
TVXQ (include JYJ)
Super Junior Yesung
Super Junior Donghae
Super Junior Kyuhyun
Super Junior Leeteuk (cameo)
SNSD Taeyeon (cameo)
__________________________________________________________________________
Chapter 1
Kali ini tidak akan kulepaskan kau...
Tidak akan kubiarkan kau menginjakkan kakimu di bumi lagi....
____
Eomma
membuka pintu kecil di bawah tangga, mendorong Chanyeol ke dalamnya.
“Tunggu Eomma disini, nak,” kata Eomma sambil berusaha mengatur
napas, “Jangan keluar sampai Eomma memanggilmu.”
“Eomma
mau kemana?” tanya Chanyeol.
Eomma
menatap putra kecilnya dengan tatapan panik. “Menemani appamu,”
jawab Eomma, berusaha keras tersenyum, “Chanyeol, dengarkan pesan
Eomma baik-baik.”
Chanyeol
menatap Eomma, mendengarkan dengan baik. “Apapun yang terjadi,”
Eomma berpesan, “ tidak peduli seberapa besar ketakutan melandamu,
jangan pernah berteriak. Kau dengar, Park Chanyeol?”
Chanyeol
mengangguk. “Eomma, cepatlah kembali.,” pinta Chanyeol. Eomma
tersenyum miris, membelai pelan pipi Chanyeol, lalu menutup pintu
bawah tangga.
Chanyeol
memeluk kakinya, meringkuk dan bersandar di dinding lemari bawah
tangga yang dingin itu. Sesaat kemudian, terdnegar suara jeritan dan
bunyi pedang saling beradu. Kadang-kadang suara letusan pistol juga
terdengar merentet. Chanyeol memeluk kakinya semakin rapat, berusaha
menghilangkan ketakutannya dan tidak berteriak sesuai pesan Eomma.
“Aaaa!!”
Chanyeol
terlonjak kaget mendengar eommanya menjerit keras. Ingin sekali dia
berlari keluar, tapi Eomma berpesan utnuk tidak keluar sebelum Eomma
memanggilnya. Perlahan airmata membasahi pipi halus Chanyeol,
ketakutan luar biasa menghantuinya.
Sementi
kemudian, kericuhan perlahan mereda. Chanyeol masih gemetar, bahkan
setelah suasana sunyi dia masih ketakutan. Chanyeol menunggu Eomma
memanggilnya.
Sayup-sayup
telinga Chanyeol menangkap suara-suara. Bukan suara keributan seperti
tadi, melainkan suara orang-orang yang sedang berbincang.
Perlahan
pintu lemari terbuka. Chanyeol terlonjak, mundur merapat ke dinding
melihat seorang pria berdiri di depannya. Pria itu bertubuh jangkung,
dengan pakaian berwarna coklat tanah membungkus tubuhnya. Pria itu
menatap Chanyeol sejenak, lalu membuang muka seraya berteriak, “Dia
ada disini!”
Chanyeol
semakin ketakutan. Dia berpikir, jangan-jangan pria ini akan
membunuhnya. Seorang pria muncul, tubuhnya sama tinggi dengan pria
pertama, hanya saja wajahnya lebih ramah dan hangat. Dia tersenyum,
mengulurkan tangannya. “Jangan takut,” katanya ramah, “kami
tidak akan melukaimu. Ayo keluar.”
“Eomma
berpesan agar aku tidak keluar sampai dia memanggilku,” jawab
Chanyeol.
_
Dua
pria itu saling menatap, lalu beralih menatap Chanyeol dengan
ekspresi yang sulit diartikan bocah berusia delapan tahun itu. “Kami
diberi perintah oleh eommamu untuk membawamu ke tempat kami,” kata
pria tadi sambil berjongkok di depan Chanyeol, “memindahkanmu ke
tempat yang lebih aman. Kajja, kita cepat pergi.”
Chanyeol
perlahan keluar dari lemari tangga. “Dimana Eomma dan Appa?”
tanyanya. Pria itu tidak menjawab, menggandeng tangan Chanyeol,
membawanya keluar dari rumahnya yang sudah berantakan. Chanyeol
melangkah mengikuti pria itu, langkahnya mendadak berhenti saat
melihat tumpukan abu di depan rumah. Mata Chanyeol terbelalak lebar
saat melihat sepotong kain yang hampir hangus terbakar di antara
tumpukan abu itu.
“Eommaaaaaaaaaaaaa!!”
Chanyeol menjerit, seketika berlari kearah tumpukan abu itu. Pria
tadi dengan cepat menahan tubuh mungil Chanyeol yang menjerit
histeris. “Eommaaaa!! Appaaa!!” Chanyeol terus menjerit,
airmatanya tidak terbendung lagi. Dia meronta, berusaha keras
melepaskan diri dari pria itu sambil terus menjerit memanggil
orangtuanya.
“Changmin-ah!
Bantu aku!” teriak pria itu sambil memegangi Chanyeol yang masih
saja meronta. Changmin berlari, menahan Chanyeol. “Kita harus
cepat-cepat membawanya pulang, Yunho hyung,” kata Changmin, “ayo.
Kita tidak punya banyak waktu lagi.”
Yunho
mengangguk, menyeret Chanyeol yang terus menjerit histeris. Dia dan
Changmin memasukkan Chanyeol ke mobil, duduk di belakang kemudi dan
meningglkan rumah Chanyeol yang tertutup asap hitam pekat.
___
Chanyeol
berjalan pelan masuk ruang tengah. Dia berdiri, menatap foto
orangtuanya yang tersenyum bahagia sambil menggendong dirinya yang
masih balita saat itu. Bolamatanya bergerak-gerak menahan airmata
yang menggenang di pelupuk mata. “Kenapa kalian harus pergi dengan
cara seperti itu?” gumam Chanyeol pelan, suaranya sedikit serak,
“dan kenapa kalian yang harus mati?”
“Chanyeol-ah.”
Chanyeol
menoleh. “Kris Ge,” ucapnya sambil mengusap airmata yang hampir
keluar. Kris berjalan mendekati Chanyeol seraya berkata, “Sudah
waktunya latihan. Ayo, kita sudah ditunggu di lapangan.”
“Sebenarnya
untuk apa kita semua dilatih seperti ini?” tanya Chanyeol.
“Untuk
mengalahkan musuh terbesar kaum Priest sejak ribuan tahun lalu,”
jawab Kris, “vampire.”
Chanyeol
terdiam. “Bisakah aku menggunakan kemampuanku untuk membalas dendam
atas kematian orangtuaku?” tanyanya pelan.
Kris
menoleh, menatap Chanyeol. “Tentu saja,” jawabnya, “kau memang
dilatih untuk itu. Memangnya senior tidak pernah memberitahumu kalau
vampire yang menghabisi orangtuamu?”
____________________________________________

Tidak ada komentar:
Posting Komentar